Karet alam adalah komoditas perkebunan yang menopang jutaan petani di Sumatra dan Kalimantan. Meski jarang menjadi sorotan seperti sawit, Indonesia adalah salah satu pilar pasokan karet dunia. Memahami jenis dan standar mutunya membantu membaca mengapa harga karet bergerak.
Dari getah pohon menjadi lateks
Karet alam berasal dari getah pohon Hevea brasiliensis yang disadap dari batangnya. Getah cair ini disebut lateks. Dari lateks, karet diolah menjadi berbagai bentuk: lembaran asap (Ribbed Smoked Sheet/RSS), karet remah (crumb rubber), maupun lateks pekat untuk sarung tangan dan produk medis.
Indonesia, produsen terbesar kedua dunia
Menurut data yang dihimpun Indonesia Investments, Indonesia merupakan produsen karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Sekitar 80 persen produksi berasal dari perkebunan rakyat, dan sentra terbesar berada di Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat. Sebagian besar hasil produksi — sekitar 85 persen — diekspor, dengan Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang sebagai tujuan utama.
Apa itu SIR 20?
SIR adalah singkatan dari Standard Indonesian Rubber, sistem mutu karet remah ekspor Indonesia yang setara dengan kategori Technically Specified Rubber (TSR) di pasar internasional. Angka di belakangnya menunjukkan batas kandungan kotoran: makin kecil angkanya, makin bersih karetnya.
- SIR 20 / TSR 20 adalah tingkat mutu yang paling banyak diperdagangkan. Karet jenis ini menjadi bahan baku utama industri ban dunia.
- Harga acuan global untuk TSR 20 diperdagangkan di bursa berjangka seperti SGX (Singapura) dan bursa komoditas lain, sehingga harga di tingkat lokal ikut bergerak mengikuti pasar internasional.
Karena SIR 20 mendominasi ekspor, standar mutu dan pengawasannya menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Perdagangan memperbarui tata kelola ekspor karet alam spesifikasi teknis melalui Permendag Nomor 1 Tahun 2026 agar ekspor lebih terstandar dan terawasi.
Bagaimana harga karet terbentuk?
Harga karet alam dipengaruhi banyak faktor sekaligus: permintaan industri ban (yang bergantung pada penjualan otomotif global), harga minyak bumi (karena karet sintetis adalah substitusi), nilai tukar, cuaca yang memengaruhi penyadapan, serta kebijakan negara-negara produsen. Indonesia, Thailand, dan Malaysia yang tergabung dalam kerja sama negara produsen kadang mengatur pasokan untuk menjaga harga.
Tantangan industri karet
Petani karet menghadapi harga yang lama tertekan, produktivitas kebun tua yang menurun, dan persaingan dengan karet sintetis. Program peremajaan tanaman, hilirisasi menjadi produk jadi seperti ban dan sarung tangan, serta pemanfaatan karet untuk aspal dan infrastruktur menjadi jalan yang didorong pemerintah untuk mengangkat nilai tambah komoditas ini.