Di Balik Angka: Bagaimana Harga Lelang Teh India Dikonversi ke Rupiah
Harga lelang Kolkata tercatat ₹262,82/kg — tapi bagaimana angka itu berubah jadi Rp 49.539/kg di Infokomoditas? Ini metodologi kurs silangnya, langkah demi langkah.
Setiap minggu, Tea Board India mempublikasikan harga rata-rata lelang teh hitam dari tujuh sentra utama — Kolkata, Guwahati, Siliguri, Cochin, Coonoor, Coimbatore, dan Tea Serve. Semua angka itu dipublikasikan dalam Rupee India (INR) per kilogram, karena itulah mata uang pasar lelangnya.
Masalahnya, Bank Mandiri — sumber kurs resmi yang dipakai Infokomoditas — tidak pernah menerbitkan kurs INR/IDR secara langsung. Kurs Tengah Mandiri hanya dipublikasikan untuk pasangan mata uang utama seperti USD/IDR.
Daripada memakai angka dari sumber lain yang tidak resmi, atau memaksakan estimasi, Infokomoditas menggunakan konversi silang (cross-rate) yang transparan dan bisa diverifikasi ulang oleh siapa pun:
1. Ambil kurs tengah Bank Mandiri untuk USD/IDR pada tanggal observasi (dipublikasikan ulang oleh KursDollar.org sebagai relay).
2. Ambil kurs referensi harian USD/INR dari Frankfurter — basis data kurs referensi Bank Sentral Eropa (ECB) yang gratis dan mendukung tanggal historis.
3. Bagi kurs USD/IDR dengan kurs USD/INR untuk mendapatkan kurs INR/IDR pada tanggal yang sama.
Untuk lelang Kolkata pada minggu yang berakhir 1 Agustus 2026, harga native tercatat ₹262,82/kg. Karena 1 Agustus adalah Sabtu (bank tutup), sistem otomatis menggunakan kurs hari kerja terakhir sebelumnya (31 Juli 2026) — bukan kurs hari ini, dan bukan tebakan. Kurs USD/IDR Mandiri hari itu 17.980, kurs USD/INR referensi 95,39, sehingga 1 INR ≈ Rp 188,49. Hasilnya: Rp 49.538,77/kg.
Angka konversi ini selalu tersedia di panel 'Lihat sumber' pada setiap kartu harga teh — lengkap dengan kurs beli/jual Mandiri, tanggal efektif, dan sumber referensi kurs asing yang dipakai. Harga native dalam Rupee tetap ditampilkan sebagai referensi sekunder; Rupiah tidak pernah menggantikan angka aslinya, hanya melengkapinya.