Brent Mendekati US$100, Gangguan Selat Hormuz Tekan Biaya Logistik Komoditas
Harga minyak Brent bergerak mendekati US$100 per barel seiring berlanjutnya gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Lonjakan energi berpotensi meningkatkan ongkos pengiriman berbagai komoditas.
JAKARTA, INFOKOMODITAS — Harga minyak dunia kembali mendekati level US$100 per barel di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Pada perdagangan 7 September 2026, Brent bergerak di sekitar US$96,80 per barel, sedangkan West Texas Intermediate berada sekitar US$92,14 per barel.
Perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Aktivitas kapal komoditas di kawasan tersebut dilaporkan turun menjadi rata-rata sekitar 10 kapal per hari, terendah sejak Mei.
Dampaknya tidak berhenti pada harga minyak mentah.
Pasokan bahan bakar kapal juga mengalami tekanan. Harga very low sulphur fuel oil di Singapura dilaporkan melonjak tajam, sementara persediaan di beberapa pusat perdagangan utama berada sekitar 30 persen di bawah pola musimannya.
Kenaikan bunker fuel dapat mendorong biaya angkutan laut atau freight. Hal ini penting bagi Indonesia sebagai eksportir berbagai komoditas yang sangat bergantung pada transportasi laut.
CPO, karet, kopi, kakao dan teh dapat menghadapi kenaikan biaya pengiriman ke negara tujuan ekspor. Kenaikan freight dapat mengurangi margin eksportir sekalipun harga komoditas internasional tidak mengalami penurunan.
Di pasar domestik, harga energi juga dapat memengaruhi biaya transportasi, distribusi dan pengolahan komoditas.
Karena itu, pelaku pasar perlu memperhatikan bukan hanya harga komoditas utama tetapi juga perkembangan Brent, bunker fuel dan tarif freight.
Selama aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya normal, premi risiko energi diperkirakan tetap menjadi salah satu faktor penting bagi pasar komoditas global.