El Niño Sangat Kuat, Risiko Tekanan Harga Pangan Meningkat Menjelang Akhir 2026
El Niño dengan intensitas sangat kuat masih membayangi Indonesia. Curah hujan yang diperkirakan rendah hingga menengah pada September–November 2026 meningkatkan risiko terhadap produksi dan harga sejumlah komoditas pangan.
JAKARTA, INFOKOMODITAS — Risiko cuaca kembali menjadi perhatian pasar komoditas menjelang kuartal IV 2026 setelah fenomena El Niño berkembang dengan intensitas sangat kuat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 pada Juli 2026 mencapai +2,22 derajat Celsius. Pada dasarian pertama Agustus, angkanya bahkan mencapai sekitar +2,77 derajat Celsius, yang menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat.
BMKG juga memperkirakan pada periode September hingga November 2026, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah dengan sifat hujan bawah normal hingga normal. Kondisi tersebut membuat ketersediaan air menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh sektor pertanian dan perkebunan.
Puncak musim kemarau sebelumnya diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026. Khusus September, sekitar 169 Zona Musim atau 25,41 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan memasuki puncak kemarau.
Dari perspektif komoditas, kondisi kering berkepanjangan dapat memengaruhi produktivitas tanaman, terutama apabila terjadi pada fase pertumbuhan yang membutuhkan pasokan air tinggi.
Gula menjadi salah satu komoditas yang perlu dicermati karena produksi tebu sangat dipengaruhi pola curah hujan. Minyak sawit juga dapat menghadapi dampak tertunda apabila defisit air berlangsung lama, sementara kopi, kakao dan teh memiliki tingkat sensitivitas berbeda bergantung pada lokasi dan fase pertumbuhan tanaman.
Namun El Niño tidak serta-merta berarti seluruh harga komoditas akan meningkat. Pergerakan harga tetap bergantung pada stok, produksi aktual, permintaan, perdagangan internasional, kebijakan pemerintah dan nilai tukar rupiah.
Memasuki kuartal IV 2026, pelaku pasar perlu memperhatikan perkembangan curah hujan aktual, tingkat kekeringan di sentra produksi, laporan panen serta perubahan harga di tingkat produsen maupun konsumen.
Bagi pasar komoditas Indonesia, cuaca diperkirakan tetap menjadi salah satu sumber volatilitas yang penting hingga akhir tahun.