Kembali ke Berita
Infokomoditascpokopikakaokaret

Neraca Pembayaran Defisit US$0,9 Miliar, Impor Migas Jadi Tekanan Eksternal

Andi Ramadhan 11 hari lalu

Neraca Pembayaran Indonesia mencatat defisit US$0,9 miliar pada kuartal II 2026. Defisit perdagangan migas meningkat sementara surplus perdagangan nonmigas menurun.

JAKARTA, INFOKOMODITAS — Perkembangan perdagangan komoditas semakin penting bagi ketahanan sektor eksternal Indonesia di tengah tingginya harga energi dunia.

Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal II 2026 mengalami defisit US$0,9 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal sebelumnya.

Meski defisit keseluruhan menyusut, transaksi berjalan mengalami defisit yang lebih tinggi.

Bank Indonesia menyebut kondisi tersebut antara lain disebabkan oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan migas serta menurunnya surplus perdagangan nonmigas.

Kondisi itu memiliki hubungan erat dengan pasar komoditas.

Indonesia mengimpor minyak dan produk energi, sementara pada saat yang sama memperoleh devisa dari ekspor berbagai komoditas nonmigas seperti CPO, karet, kopi dan kakao.

Ketika harga energi global meningkat, kebutuhan devisa untuk membiayai impor migas dapat bertambah. Sebaliknya, peningkatan nilai ekspor komoditas membantu mengimbangi tekanan tersebut.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat US$145,6 miliar, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Dengan Brent kembali bergerak mendekati US$100 per barel, neraca migas akan menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan pada semester II 2026.

Pada saat yang sama, kemampuan sektor komoditas nonmigas mempertahankan nilai ekspor akan semakin penting bagi pasokan valuta asing dan stabilitas ekonomi domestik.

Artikel orisinal Infokomoditas. Data harga pada artikel merujuk observasi resmi terverifikasi — lihat provenance pada papan harga.