Satu Komoditas, Banyak Harga: Mengapa Karet Jambi Rp18.000/kg di Bappebti Berbeda dengan Kabar Rp22.000–Rp26.000 dari Lapangan
Harga petani karet Jambi versi Bappebti bertahan di Rp18.000/kg sejak 8 Oktober 2026, sementara pemberitaan daerah melaporkan angka lebih tinggi. Selisih ini perlu dibaca hati-hati sebelum dijadikan acuan.
Berdasarkan data Bappebti (Sistem Informasi Harga Komoditi, Kementerian Perdagangan), harga petani karet di Jambi tercatat Rp18.000/kg pada 19 Oktober 2026. Pada awal periode 90 hari (4 Agustus 2026) harganya Rp16.000/kg, sehingga kenaikannya 12,5%. Dalam periode yang sama, harga terendah tercatat Rp10.000/kg dan tertinggi Rp18.000/kg, yang berarti harga saat ini berada di puncak rentang tersebut.
Pola sampel data menarik untuk dicermati. Harga bertahan Rp16.000/kg dari 28 September hingga 7 Oktober, lalu melompat ke Rp18.000/kg pada 8 Oktober dan tidak berubah di semua pengamatan hingga 19 Oktober. Kemungkinan, pergerakan ini mencerminkan pembaruan kuotasi yang bersifat bertahap, bukan fluktuasi harian. Karena itu, harga datar selama sebelas hari belum tentu berarti pasar sepi. Perlu dipantau apakah level Rp18.000 akan direvisi pada rilis berikutnya.
Pemberitaan daerah menampilkan angka yang berbeda. Media melaporkan harga karet "tembus Rp22 ribu per kg" di Batang Hari (Tribunjambi.com), "tembus Rp26.000 perkg" di Tanjung Manggus (Palpos), dan Rp17.800 di Sanggau (Harian Berkat). Judul-judul itu tidak memuat rincian jenis mutu, titik transaksi, atau kadar karet kering. Sebagai analisis, selisih tersebut kemungkinan dipengaruhi perbedaan lokasi, mutu bahan olah karet, dan acuan harga. Angka-angka itu tidak bisa langsung dibandingkan dengan harga petani Bappebti, dan sebaiknya tidak dianggap sebagai koreksi atas data resmi.
Dari sisi pasokan, sejumlah berita menyebut produksi menurun pada musim kemarau, baik di Batang Hari maupun di OKI, dengan harga di OKI disebut berangsur naik. Di Kotawaringin Timur, harga disebut stabil tetapi pasokan dari petani terkendala. Berdasarkan judul-judul tersebut, ada konteks keterbatasan pasokan di beberapa sentra. Namun data yang tersedia tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kemarau adalah penyebab tunggal kenaikan harga Jambi. Hubungan sebab-akibat itu masih berupa hipotesis.
Ada juga sinyal struktural yang lebih jangka panjang. Tribunjambi.com melaporkan 684 hektare lahan karet di Batang Hari beralih fungsi karena petani tergiur harga sawit, sementara Disbunnak Sanggau mengajak masyarakat menanam karet saat harga menyentuh Rp17.800. Kedua kabar ini menunjukkan bahwa harga karet yang membaik belum otomatis menahan peralihan komoditas. Jika konversi berlanjut, kemungkinan basis pasokan karet daerah menyempit dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini perlu dipantau lewat data luas tanam, bukan hanya harga.
Di pasar acuan, laporan Agricom.id mencatat harga SGX–SICOM bergerak tipis dalam sepekan: naik Rp571 menjadi Rp46.055/kg pada 19 Oktober, terkoreksi tipis namun bertahan di atas Rp46.000 pada 20 Oktober, naik Rp227 mendekati Rp46.500 pada 21 Oktober, lalu turun Rp427 ke Rp45.814/kg (KKK 100%) pada 22 Oktober. Angka ini adalah patokan bursa dengan basis kadar karet kering penuh, sehingga jauh di atas harga petani dan bukan cerminan langsung harga di kebun. Meski begitu, volatilitas harian yang relatif sempit sejalan dengan gambaran pasar yang tidak bergejolak tajam pada pekan tersebut.
Dari sisi regulasi, data kami mencatat Permendag No. 1 Tahun 2026 (terbit 7 Januari 2026) tentang penguatan tata kelola ekspor karet alam spesifikasi teknis (SIR) berstatus berlaku, bersama Permendag No. 5 Tahun 2026 tentang perubahan keempat kebijakan dan pengaturan ekspor. Aturan lama, yaitu Permendag No. 10/M-DAG/PER/4/2008 dan No. 26 Tahun 2021, berstatus dicabut. Isi rinci ketentuan tersebut tidak tersedia dalam data ini, sehingga dampaknya terhadap harga petani belum dapat dinilai. Yang bisa dipantau adalah apakah penataan ekspor SIR pada akhirnya tercermin pada mutu dan harga di tingkat petani.
Kesimpulannya, data terverifikasi menunjukkan harga petani karet Jambi berada di level tertinggi dalam 90 hari terakhir, tetapi kenaikannya bersifat sekali lompat dan belum dikonfirmasi tren lanjutan. Bagi petani dan pedagang, angka Bappebti paling tepat dipakai sebagai acuan regional, sedangkan angka lapangan perlu diverifikasi mutu dan lokasinya. Ke depan, tiga hal layak dipantau: kelanjutan level Rp18.000, pemulihan pasokan setelah kemarau, dan laju alih fungsi lahan ke sawit.
Sumber:
- Harga Karet di Batang Hari Tembus Rp22 Ribu per Kg, Produksi Turun akibat Kemarau — Tribunjambi.com
- Harga Karet Tembus Rp26.000 Perkg di Tanjung Manggus - palpos.disway.id — Palpos
- Tembus Rp17.800, Disbunnak Sanggau Ajak Masyarakat Tanam Karet — Harian Berkat
- Produksi Karet Petani di OKI Menurun di Musim Kemarau, Harga Berangsur Naik — Sumeks
- Harga Karet Stabil, Pasokan dari Petani Kotim Terkendala — Klik Kalteng
- 684 Hektare Lahan Karet di Batang Hari Beralih Fungsi, Petani Tergiur Harga Sawit — Tribunjambi.com
- Harga Karet SGX–SICOM Senin 19 Oktober 2026 Naik Rp571, Jadi Rp46.055 per Kg — Agricom.id
- Harga Karet SGX–SICOM Kamis (22/10) Turun Rp427, KKK 100% Terkoreksi Jadi Rp45.814 per Kg — Agricom.id
- Penguatan Tata Kelola Ekspor Karet Alam Spesifikasi Teknis (SIR) — Permendag No. 1 Tahun 2026 (Kementerian Perdagangan RI, 2026-01-07, Berlaku) — https://www.kemendag.go.id/berita/siaran-pers/kemendag-terbitkan-permendag-nomor-1-tahun-2026-perkuat-tata-kelola-ekspor-karet-alam-spesifikasi-teknis
- Perubahan Keempat Kebijakan dan Pengaturan Ekspor — Permendag No. 5 Tahun 2026 (Kementerian Perdagangan RI, Berlaku) — https://www.kemendag.go.id/berita/siaran-pers/kemendag-terbitkan-permendag-5-dan-6-tahun-2026-pangkas-hambatan-dan-perizinan-ekspor
